RAKORNAS PERUATI 2026 – BALI

DItulis oleh: Anita Simatupang.
Dokumentasi Kegiatan: Tim Media Panitia Rakornas.
Editing dan Kurasi Foto: Anita Simatupang.
4

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PERUATI yang diselenggarakan di Bali pada 9–13 Maret 2026 mengusung tema “Terwujudnya nilai-nilai feminis dalam laku hidup yang merawat alam dan keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.” Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nasional yang tidak hanya berfokus pada arah gerakan organisasi, tetapi juga memperdalam praksis kepemimpinan feminis kritis di tengah situasi krisis ekologis dan sosial yang kian mendesak. Sebelum memasuki rangkaian Rakornas, rangkaian diawali dengan ibadah pembukaan, dilanjutkan dengan lokakarya mitigasi dan adaptasi bencana serta krisis iklim dalam perspektif feminis. Lokakarya ini menjadi fondasi penting, yang menolong peserta membaca realitas secara lebih kritis sekaligus mempersiapkan langkah-langkah strategis dalam konteks daerah masing-masing.

Ibadah Pembukaan

1

Ibadah pembukaan Rakornas berlansung di GKPB Jemaat Betlehem Untal-untal, Bali. Ibadah menjadi ruang spiritual yang sarat makna simbolik, mengakar pada relasi antara perempuan, alam dan Allah. Melalui prosesi simbol seperti tanah, air, udara (ruah), benih, kain daerah, dan terang lilin, peserta diajak merefleksikan bahwa bumi dan tubuh perempuan sama-sama mengalami luka, namun juga menyimpan daya pulih dan harapan. Ibadah ini menegaskan bahwa kepemimpinan feminis bukanlah tentang dominasi, melainkan tentang merawat, memberi ruang, dan menghadirkan kehidupan – sebuah panggilan iman untuk membangun relasi yang adil dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.

Lokakarya Mitigasi Bencana: Membangun Perspektif hingga Aksi

2
Krisis Iklim sebagai Isu Keadilan.

Rangkaian lokakarya diawali dengan doa pagi, dilanjutkan dengan pengantar dan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait mitigasi dan adaptasi bencana dalam perspektif feminis. Sesi kemudian masuk pada fondasi teologis dan feminis kritis yang menempatkan krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi sebagai isu keadilan sosial dan ekologis. Sesi ini pimpin oleh Pdt. Mery Kolimon, dalam pemaparan, peserta diajak melihat bagaimana krisis iklim berkaitan erat dengan struktur kuasa, patriarki, dan model pembangunan yang eksploitatif. Perspektif ekofeminisme menegaskan bahwa perempuan dan alam sering berada dalam posisi yang sama: menjadi pihak yang paling terdampak, sekaligus paling sering diabaikan. Karena itu, teologi feminis kritis hadir untuk membaca realitas dari pengalaman mereka yang rentan, sekaligus mendorong transformasi yang lebih adil dan inklusif.

Mengenali Kerentanan dan Sumber Daya dengan Pendekatan Feminis berbasis Komunitas.

Sesi ini dipimpin oleh Anna Marsiana, yang berfokus pada analisis kerentanan berbasis feminis kritis. Peserta diperkenalkan pada konsep dasar seperti hazard (ancaman), vulnerability (kerentanan), dan capacity (kapasitas), serta diajak mengidentifikasi kelompok yang paling terdampak dalam situasi krisis. Pendekatan feminis menekankan bahwa kerentanan tidak bersifat alami, melainkan dibentuk oleh relasi kuasa dan struktur sosial. Perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya sering mengalami kerentanan berlapis, sekaligus kerap tidak diakui kapasitasnya. Analisis dilakukan berbasis komunitas untuk menempatkan pengalaman lokal sebagai sumber utama pengetahuan.

Diskusi kelompok dan Refleksi: Belajar dari Realitas.

Setelah sesi materi, lokakarya hari pertama diakhiri dengan diskusi kelompok dan refleksi pimpin oleh Pdt. Obertina Johanis dan Pipit Purwadi. Melalui diskusi kelompok, peserta memetakan kondisi wilayah masing-masing, khususnya terkait kerentanan berbasis gender. Proses ini membuka ruang bagi pengalaman konkret dari berbagai daerah, sekaligus memperlihatkan bahwa setiap konteks memiliki dinamika yang berbeda. Dalam pleno dan refleksi, muncul kesadaran bahwa gereja dan komunitas memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penerima dampak, tetapi juga sebagai aktor penting dalam respons terhadap krisis. Hari pertama ditutup dengan refleksi kritis yang menegaskan pentingnya menghubungkan teologi dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Dari Pespektif ke Aksi: Kerangka dan Pemetaan Risiko.

Hari kedua lokakarya diawali dengan doa pagi, dilanjutkan dengan pengenalan kerangka teknis Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan pendekatan berbasis komunitas (CBDRR). Sesi ini dipimpin oleh Pdt. Joyce Manarisip. Peserta diajak memahami siklus manajemen bencana serta hubungan antara ancaman, kerentanan, dan kapasitas dalam menentukan tingkat risiko.

Proses ini dilanjutkan dengan praktik pemetaan risiko wilayah difasilitatori oleh Anna Marsiana. Peserta secara berkelompok menyusun analisis ancaman, dampak, serta potensi adaptasi di wilayah masing-masing. Hasilnya menunjukkan beragam isu, mulai dari kekeringan, banjir, hingga dampak industri ekstraktif, dengan perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak, baik secara ekonomi, sosial, maupun kesehatan.

Dalam proses refleksi, peserta diajak kembali melihat apakah analisis yang dilakukan sudah benar-benar inklusif. Pertanyaan kunci yang muncul antara lain: siapa yang terlibat, siapa yang belum terwakili, dan apakah data yang digunakan sudah sensitif terhadap gender dan kelompok rentan. Sesi ini menegaskan pentingnya memastikan bahwa perempuan tidak hanya dilihat sebagai korban, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki pengetahuan dan kapasitas dalam merespons krisis.

Merumuskan Langkah: RTL dan Strategi Kampanye.

Lokakarya kemudian diarahkan pada penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Peserta merancang program mitigasi dan adaptasi berbasis komunitas dan gereja, termasuk strategi kampanye dan advokasi di tingkat lokal maupun nasional. Narasi iman dan keadilan ekologis menjadi bagian penting dalam desain kampanye, dengan menekankan pelibatan perempuan dan kelompok rentan sebagai aktor utama dalam perubahan. Sebagai penutup, dilakukan post-test untuk mengukur capaian pembelajaran, dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan. Lokakarya kemudian ditutup dengan deklarasi bersama dan aksi simbolis sebagai bentuk komitmen kolektif dalam merawat bumi dan memperjuangkan keadilan ekologis. Proses ini menjadi jembatan penting sebelum peserta memasuki forum Rakonas, dengan membawa perspektif yang lebih kritis, kontekstual, dan berorientasi pada aksi.

5

Rakornas PERUATI 2026

3

Setelah lokakarya, peserta memasuki rangkaian Rakornas yang diawali dengan roll call dan panduan rapat sebagai kesepakatan bersama dalam menjalankan proses persidangan, termasuk mekanisme hibrid hingga penutupan. Sesi pertama rakornas kemudian menjadi ruang untuk mendengar laporan dan refleksi kepengurusan, baik di tingkat nasional maupun daerah. Dari sini, peserta bersama-sama melihat perjalanan organisasi—apa yang sudah dikerjakan, capaian yang diraih, sekaligus tantangan yang masih dihadapi. Memasuki sesi ke-2, peserta diajak masuk lebih dalam melalui diskusi kelompok dengan pendekatan feminis kritis. Percakapan tidak hanya berhenti pada struktur organisasi, tetapi juga menyentuh cara memimpin, relasi antar anggota, serta bagaimana nilai-nilai feminis benar-benar dihidupi dalam praktik sehari-hari.

Hari berikutnya dibuka dengan PA/Bible study bertema Perempuan, Alam, dan Komunitas Inklusif, yang kembali menegaskan dasar spiritual sekaligus reflektif bagi seluruh proses Rakornas. Setelah itu, peserta membahas pembaruan program dan anggaran untuk periode 2026–2027 sebagai pijakan konkret gerakan ke depan. Seluruh rangkaian kemudian dirangkum dalam sesi ke-3, di mana keputusan-keputusan Rakornas dirumuskan dan disepakati bersama sebagai arah strategis organisasi.

Rakornas ditutup dengan suasana yang lebih hangat melalui malam budaya, menjadi ruang kebersamaan yang merayakan keberagaman. Sementara itu, hari terakhir diisi dengan waktu bebas dan dilanjutkan dengan rapat lengkap pengurus nasional untuk menindaklanjuti hasil-hasil yang telah disepakati.

1000119088

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top