Merawat Bumi dan Sesama: Catatan dari Workshop Generasi Muda Lintas Iman.

web peruati (3)
Refleksi oleh Eirene Muna Siska Siringoringo, S.Th. — Anggota Peruati Jabodetabek.
Disunting oleh Anita Simatupang.
Foto oleh tim Panitia Kegiatan.
Author Name
Workshop Generasi Muda Lintas Iman: Mewujudkan Keadilan Ekologi dan Sosial diselenggarakan pada 16-18 Oktober 2026 di Pusdiklat Tenaga Teknis Kementrian Agama, Ciputat. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Perempuan Alumni Pendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) Jabodetabek, Mission21, EcoBhinneka Muhammadiyah, Green Campus Blue Seminary (GCBS-STFT) Jakarta, Lentera Hijau Indonesia, Eco Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), dengan menjadikan ekofeminisme dan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) sebagai praktik yang dijalani Bersama, bukan sekadar wacana yang dibicarakan. Peserta hadir dengan berbagai latar belakang agama, komunitas dan pengalaman hidup.

Ruang yang aman dan inklusif menjadi kesan mendalam dari kegiatan ini. Setiap peserta berinteraaksi dengan rekaan lintas iman dan belajar dari pengalaman teman dengan disabilitas. Perjumpaan ini menunjukkan bagaimana keberagaman memperluas cara peserta melihat dunia. Peserta belajar, bahwa keadilan berarti memberi ruang agar setiap orang didengar, dihargai dan dilibatkan tanpa memandang latar belakang maupun kondisinya.
Seluruh sesi membangun kesadaran akan persoalan ekologis, ketidakadilan gender, disabulitas dan eksklusi sosial yang saling berkaitan. Keadilan lingkungan tidak dapat dibicarakan tanpa memperhatikan kelompok yang paling rentan terhadap dampaknya. Perjuangan keadilan sosial pun perlu melihat cara manusia memperlakukan alam sebagai ruang hidup bersama.

Kesadaran ini diperdalam melalui sesi Climate Emotion. Fasilitator mengajak peserta menyentuh ranting dan tanah sambil menyadari perasaan yang muncul. Salah satu peserta merasakan sedih dan bersalah terhadap alam. Ingatan akan kebakaran hutan yang marak di Indonesia menguatkan perasaan itu. Peserta juga merenungkan bagaimana kepentingan ekonomi dan kebutuhan manusia berujung pada pengorbanan alam. Pengalaman ini mendorong peserta mempertanyakan kembali relasi manusia dengan alam. Krisis ekologis tampak sebagai persoalan etis, sosial, dan spiritual, bukan hanya persoalan lingkungan.

Perspektif ekofeminisme memperkuat pembacaan tersebut. Perspektif ini membantu peserta mengkritisi relasi kuasa yang melanggengkan ketidakadilan terhadap manusia maupun alam. Bagi peserta yang belajar teologi, kegiatan ini menegaskan bahwa iman perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Perjumpaan lintas iman membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi solidaritas dan kerja sama demi kehidupan yang lebih adil.

Workshop ini juga meninggalkan pesan tentang perubahan. Menjadi agen perubahan tidak harus dimulai dengan tindakan besar. Kesediaan mendengarkan, keterbukaan terhadap perbedaan, dan upaya membangun ruang yang inklusif sudah merupakan bagian dari perubahan itu. Peserta pulang dengan rasa syukur, pengalaman persaudaraan, dan harapan agar pengalaman ini bertumbuh menjadi komitmen nyata. Komitmen itu mencakup merawat kehidupan, memperjuangkan keadilan ekologis dan sosial, dan membangun dunia yang lebih ramah bagi semua.
Author Name

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top