Ditulis oleh: Anita Simatupang.
Dokumentasi Kegiatan: Tim Media BPD Bali.
Editing dan Kurasi Foto: Anita Simatupang.
| Di tengah berbagai tantangan pelayanan, kita kerap kali mengagumi sosok pemimpin yang tampak kuat, mampu mengambil keputusan, dan selalu hadir bagi orang lain. Namun pertanyaannya, siapa yang menjaga pemimpin itu sendiri? Di balik tanggung jawab yang dipikul, ada pribadi yang juga dapat merasa lelah, terluka, bahkan kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak perayaan HUT ke-31 PERUATI yang diselenggarakan oleh BPD Bali pada 18 Juli 2026 di GPIB Jemaat Ekklesia Bandar Udara Internasional I Ngurah Rai. Dengan tema “Pemimpin Tangguh, Manusia Utuh: Mewujudkan Kesehatan Mental untuk Kepemimpinan Feminis”, kegiatan ini dihadiri sekitar 30 orang peserta. Peserta diajak memaknai kembali kepemimpinan, bukan hanya sebagai sebuah peran, tetapi juga sebagai perjalanan merawat diri di tangan panggilan pelayanan. Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah yang dipimpin dengan refleksi, dipimpin oleh Pdt. Michiko Pinaria Saren, M.Th. Melalui teks Mazmur 62:6-8, peserta diajak mengingatkan bahwa ketangguhan seorang pemimpin tidak dibangun dari kemampuan untuk menanggung semuanya seorang diri. Malahan, kekuatan sejati lahir saat seseorang berani bersandar kepada Tuhan sebagai sumber pengharapan dan perlindungan. Pemimpin tidak dipanggil untuk menjadi manusia yang tidak pernah goyah, melainkan pribadi yang mau terus bergumul menemukan kekuatan di dalam Allah. Pemahaman itu kemudian diperdalam melalui materi mengenai kepemimpinan feminis yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Made Narawati, S.Th., M.Si. Kepemimpinan feminis dipahami sebagai cara memimpin yang berakar pada nilai keadilan, kesetaraan, empati, kolaborasi dan pemberdayaan. Kepemimpinan bukan lagi soal siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana ruang pelayanan menjadi tempat setiap orang dapat didengar, dihargai, dan bertumbuh bersama. Namun, menjalankan kepemimpinan yang demikian tidaklah mudah. Perempuan yang melayani sering kali berada di bawah tekanan yang berlapis antara: tuntutan keluarga, pelayanan, pekerjaan, stereotip gender, hingga harapan untuk selalu mampu menguatkan orang lain. Dalam kondisi seperti itu, merawat diri sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Untuk menjawab persoalan tersebut, sesi Pdt. A.A. Ayu Perani, M.Th, Kons. membahas isu kesehatan mental dan luka batin. Melalui sesi ini, peserta diajak sadar bahwa kesehatan mental bukan sekadar persoalan gangguan psikologis. Seorang pemimpin yang sehat adalah pribadi yang mengenal dirinya, mampu mengelola emosi, membangun relasi yang sehat, menemukan makna hidup, dan terus bertumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Proses itu juga menuntut keberanian untuk mengakui adanya luka batin yang mungkin selama ini dipendam. Luka yang tidak pernah dihadapi seringkali memengaruhi cara seseorang memimpin, berelasi, bahkan memandang diri sendiri. Memasuki usia ke-31, PERUATI kembali diingatkan bahwa pelayanan yang berdampak lahir dari pribadi yang utuh. Keutuhan bukan berarti hidup tanpa luka atau tanpa kelemahan. Keutuhan adalah keberanian untuk menerima diri, merawat kesehatan mental, menjaga spiritualitas, serta tetap setia bertumbuh dalam panggilan Tuhan. Pada akhirnya, menjadi pemimpin yang tangguh bukan berarti selalu terlihat kuat. Ketangguhan justru tampak ketika seseorang berani tetap menjadi manusia – manusia yang mengenal batasnya, bersedia dipulihkan, dan terus melayani dengan kasih, empati, serta pengharapan. Dari sanalah kepemimpinan yang memerdekakan dapat bertumbuh, baik bagi diri sendiri maupun bagi komunitas yang dilayani. |



