Penenun Kehidupan, Penjaga Bumi.

Refleksi ini disampaikan dalam Khotbah Ibadah Penutupan Rakornas Peruati 2026 oleh Pdt. Shirley F.A.Parinussa, S.Th., M.M. dan disunting oleh Anita Simatupang.

desain tanpa judul (6)

Mengapa kita ada di sini?

Pertanyaan ini menjadi gema yang mengiringi ibadah penutupan Rakornas Peruati 2026. Sebuah pertanyaan sederhana, namun membawa kita pada kesadaran yang lebih dalam: bahwa kehadiran kita tidak hanya lahir dari panggilan surgawi, tetapi juga dari panggilan bumi – dari realitas kehidupan yang sedang terluka.

Sering kali kita menengadah ke atas dengan penuh harap, namun lupa pada tempat di mana kaki kita berpijak. Bumi, rumah bersama ini, sedang mengalami luka – bergetar dalam bencana, menggigil dalam krisis, dan memanas dalam perubahan iklim. Dalam situasi ini, panggilan iman tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab untuk merawat kehidupan. Ada mandat yang harus dikerjakan bersama: memulihkan, menyehatkan, dan menjaga bumi sebagai “mama” yang memberi kehidupan.

Refleksi ini mengajak kita melihat kembali relasi antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seperti dalam Yesaya 44:23, seluruh ciptaan, langit, bumi, gunung, dan hutan bersukacita ketika karya Tuhan dinyatakan. Namun pertanyaannya menjadi relevan hari ini: masihkah langit bersukacita jika bumi merana? Masihkan hutan terlihat megah jika hutan-hutan gundul? Masihkah laut indah jika isinya dirusak? Masihkah sungai mengalir jika dipenuhi sampah?

Kesadaran ini menegaskan bahwa krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan iman dan kehidupan bersama. Dalam konteks ini, perempuan dihadirkan bukan sekadar sebagai bagian dari realitas, tetapi sebagai subjek yang memegang peran penting. Perempuan digambarkan sebagai “penenun kehidupan” yang merawat, menghubungkan, dan menjaga keberlangsungan hidup. Bukan untuk mendominasi, tetapi untuk merangkul; bukan untuk merusak, tetapi untuk merawat.

Sosok Lidia dalam Kisah Para Rasul 16:14–15 hadir sebagai alternatif inspirasi. Lidia digambarkan sebagai perempuan yang hidup dalam nilai iman, memiliki kepekaan, kemandirian, serta kemampuan membaca potensi di sekitarnya. Ia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang membentuk cara hidupnya. Sebagai seorang pengusaha kain ungu, Lidia memahami bahwa alam menyediakan sumber kehidupan, dan karena itu harus dijaga. Ia juga membuka rumahnya sebagai ruang pelayanan—sebuah tindakan sederhana namun bermakna, yang mencerminkan kepedulian dan keberanian untuk menciptakan ruang aman bagi orang lain.

Sikap ini menjadi refleksi penting dalam konteks krisis hari ini: bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk besar, tetapi juga dalam tindakan-tindakan konkret yang membuka ruang, merawat, dan menguatkan. Dari sini, refleksi ibadah penutupan Rakornas menghadirkan tiga arah panggilan bagi gerakan Peruati:

  • Open doors to education: menghidupkan kesadaran dan pengetahuan di tengah komunitas.
  • Open doors to advocacy: menggunakan pengaruh untuk melindungi ruang hidup yang terancam.
  • Open doors to action: menghadirkan praktik nyata yang bisa dirasakan bersama.

Pada akhirnya, Rakornas ini tidak hanya menghasilkan catatan dan keputusan organisasi. Lebih dari itu, setiap peserta pulang dengan membawa semangat, tulus dalam iman, cerdas dalam profesi, dan tangguh dalam Kita tidak pulang hanya dengan membawa cerita dari Bali, tetapi dengan tangan yang terbuka, siap merajut kehidupan dan merawat bumi. Dengan keyakinan, kepekaan, dan komitmen, kita diutus untuk menghadirkan kehidupan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Seperti sebuah pengingat yang sederhana namun kuat: kita menjaga bumi, dan bumi akan menjaga kita. Maka harapannya jelas, bukan meninggalkan air mata bagi generasi mendatang, tetapi mewariskan kehidupan yang tetap lestari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top