Perkumpulan Perempuan Alumni Pendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) telah selesai menyelenggarakan Training Kepemimpinan Feminis yang dirangkaikan dengan Kampanye Nasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (16 HAKtP) dengan tema “Gereja Aman bagi Perempuan dan Anak”, pada tanggal 27-30 November 2025 di Yogyakarta. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama BPN PERUATI bersama mitra Kerk In Actie, Mission 21 dan BPD PERUATI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Training Kepemimpinan Feminis

Training Kepemimpinan Feminis dilaksanakan pada 27–29 November 2025 di Asrama Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta. Total 46 peserta mengikuti kegiatan yang berasal dari BPN dan BPD PERUATI dari berbagai daerah di Indonesia, mitra, serta jejaring ekumenis. Peserta merepresentasikan keragaman konteks pelayanan gereja, lembaga teologi, dan organisasi masyarakat sipil.
Selama pelatihan, peserta diajak untuk melakukan refleksi kritis atas pengalaman kepemimpinan mereka melalui kerangka constructed self, lokus sosial, dan analisis multi-piramida kekuasaan. Proses ini menolong peserta memahami bagaimana relasi kuasa bekerja dalam kehidupan pribadi, gerejawi, dan sosial, sekaligus membuka ruang untuk merancang aksi pembebasan yang kontekstual dan transformatif. Metode pembelajaran partisipatif, berbasis pengalaman, dan dialog lintas generasi menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini.
Training ini tidak hanya berfokus pada penguatan kapasitas individu, tetapi juga mendorong peserta untuk merumuskan rencana aksi konkret yang dapat diimplementasikan di wilayah dan komunitas pelayanan masing-masing, sebagai bagian dari komitmen advokasi keadilan gender di gereja.
Kampanye Nasional: Gereja Aman bagi Perempuan dan Anak

Pada Minggu, 30 November 2025 Kampanye Nasional 16 HAKtP dilaksanakan melalui ibadah dan ruang berbagi publik yang berlangsung di Gereja Kristen Jawa Gondokusuman dan UKDW. Kampanye ini menjadi ruang teologis dan praksis untuk menegaskan kembali panggilan gereja sebagai ruang aman, adil dan berpihak pada korban kekerasan.
Rangkaian kegiatan meliputi ibadah, refleksi teologis dan sharing lintas peserta, dengan komitmen untuk mendorong transformasi gereja menuju komunitas inklusif dan berkeadilan. Kampanye ini menghadirkan narasi iman yang berpihak pada korban dan kaum rentan, menantang budaya diam dan menyalahkan korban, serta mendorong gereja untuk membangun kebijakan dan mekanisme perlindungan yang responsif terhadap kekerasan berbasis gender.
BPN PERUATI mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, mitra, narasumber serta BPD PERUATI DIY sebagai tuan rumah, atas kerja sama dan komitmen bersama dalam menghadirkan gereja yang aman bagi perempuan dan anak.


