Puasa: Spirit yang Tergantikan oleh karena Ritual

desain tanpa judul (3)

Pernahkah terpikirkan oleh Anda bahwa pada mulanya puasa tidak pernah diperintahkan oleh institusi agama untuk dilakukan secara terstruktur, melainkan reaksi mekanis tubuh semua hewan (termasuk manusia) ketika berhadapan dengan tekanan, ancaman, ketegangan dan penyakit? Alkitab tidak menyebut kata “puasa” pada awalnya, melainkan menggambarkan tindakan memantangkan diri (abstinensi) dari makan dan minum ketika berhadapan dengan sebuah situasi yang menantang. Beberapa di antaranya, “Musa berada di sana bersama TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Ia tidak makan roti maupun minum air. Ia menulis pada loh-loh itu kata-kata perjanjian, Kesepuluh Firman” (Kel. 34:28). Musa sangat bersemangat (spirit), terbukti dengan ia sangat fokus memahatkan hukum-hukum TUHAN karena dia tidak mau umat Israel dimusnahkan sesudah didapati mereka menyembah patung lembu emas. Nabi Elia juga melakukan hal yang sama. Menuju Horeb dalam pelarian dari ancaman pembunuhan ditambah semangat untuk berjumpa dengan Allah, asupan energi lewat makanan dan minuman yang disajikan oleh malaikat TUHAN membuat dia mampu berjalan selama empat puluh hari dan empat puluh malam (1 Raja-raja 19:8). Dan akhirnya, dalam tuntunan Roh (spirit), Yesus melakukan puasa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan pelayanan yang terpampang di depan mata-Nya (Mat. 4:1-11).

            “Alam tidak takut akan pantang makan dalam jangka waktu yang lama, dan berpantang ini sering dimanfaatkan baik oleh hewan yang aktif maupun dalam keadaan tidak aktif seperti hibernasi (winter sleep) dan aestivasi (summer sleep). Cara ini dilakukan hewan termasuk manusia, jika dia cukup bijaksana, dalam mengatur tubuhnya, karena demikianlah hukum alam mengatur untuk menyesuaikan dengan kondisi kehidupan atau sebagai cara untuk melakukan perubahan internal jaringan tubuh jika diperlukan.” Pernyataan ini ditulis oleh dokter Herbert M. Shelton dalam bukunya “The Science and Fine Art of Fasting” di halaman 45 yang terbit pada 1934. Dunia ilmu pengetahuan mendapatkan informasi yang cukup mendalam dari naskah-naskah kuno mengenai manfaat melakukan puasa selain yang disampaikan dalam sejarah Israel di Alkitab. Perjanjian Lama dipenuhi dengan praktik ini termasuk dalam suasana berkabung seperti yang dilakukan Raja Daud (2 Sam. 12:16) dan Daniel (Dan. 10:2-3).

            Di masa Prapaskah, umat Kristiani dapat menjalankan puasa selama empat puluh hari sebagai simbol kesatuan kita dengan penderitaan Kristus. Namun, hal yang harus dicermati adalah praktik yang sebenarnya bermula dari praktik primitif tubuh yang bermanfaat bagi kehidupan dapat kehilangan spirit dan tergantikan oleh ritual.  Karena itu, perlu ditekankan bahwa puasa adalah disiplin spiritual yang dampaknya pada kesehatan fisik dan mental dapat langsung dirasakan. Hal ini dimungkinkan karena ketika tubuh dipasang dalam mode diam (tidak mengunyah, menelan, dan mencerna setiap saat), proses pemulihan tubuh dapat terjadi. Dunia ilmu pengetahuan sejak zaman Hippokrates, telah memberi penekanan pada potensi yang dimiliki tubuh untuk memulihkan dirinya sendiri dengan strategi puasa. Praktik ini menjadi tidak mudah dilakukan oleh manusia di era industri makanan, minuman dan obat-obatan yang tersedia secara instan setiap saat. Puasa menjadi ritual; orang jadi tahu bahwa kita sedang berpuasa hanya pada saat makan-makan besar saat berbuka. Iklan makanan, minuman, bahkan cat tembok rumah memenuhi media saat bulan di mana orang berpuasa. Tanpa sadar, kita semakin sakit ketika ritual yang dijalani telah selesai, puasa telah kehilangan spirit. Saatnya untuk kembali mengembalikan fokus pada cara diri kita berpulih, karena di dalam diri kita ini Kristus bangkit dan hidup.

Oleh: Ejodia Kakunsi – BPD Jabodetabek

Prapaskah 2026

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top