Mungkin akan terdengar terlalu fanatik, tapi di tengah kusut dan ributnya dunia serta isi kepala ini, aku memutuskan menulis refleksi ini untuk menggambarkan Dunia dan Isinya – karya terbaru Rony Parulian – versi diriku.
Romantis dan bobrok adalah dua kata yang jika dipadukan, semestinya tidak pernah menemukan akhir yang sejalan. Namun, tulisan ini justru ingin menyoroti kebiasaan kita saat ini yang justru membungkus kebobrokan dengan bahasa romantic yang terdengar penuh kasih.
Duniaku mungkin tak seingar dunia yang disoroti banyak orang, tetapi mencari jalan tengah untuk dunia imajiner(ku), menjadi satu-satunya cara paling wajar yang bisa kulakukan untuk bertahan. Aku setuju dengan kalimat “aku tak mau mati sebelum mencoba tuk bersama” pada lagu Jalan Tengah yang membuka album ini. Kalimat itu mengingatkanku bahwa menyerah sebelum benar-benar berjuang bersama adalah bentuk kekalahan yang terlalu dini. Maka aku memilih menuangkan kegundahanku lewat tulisan – alih-alih diam.
Rene Descrates berkata bahwa “aku berpikir maka aku ada”. Ketika sebuah pikiran terus membawaku pada kegelisahan yang sama, di situlah aku tahu aku masih ada, hatiku masih bisa merasa, nalarku masih sanggup bekerja. Refleksi ini lahir dari kegelisahan itu, kegelisahan akan bobroknya dunia khususnya dunia yang mengaku diri sebagai rumah kasih.
Keresahan itu berakar pada satu hal yang paling menyakitkan bagiku: cara gereja – atau siapapun yang menamakan diri pelayan Tuhan – memperlakukan korban kekerasan seksual, terutama ketika pelakunya adalah pendeta sendiri.
AKU MARAH. Aku marah karena kekerasan masih diberi ruang pengampunan dengan alibi “semua orang berdosa” – seolah kekerasan seksual cukup diselesaikan. Dengan permintaan maaf di mimbar. Bukankah justru karena semua orang berdosa, Kristus telah mati, agar kita tidak lagi hidup di dalam dosa itu – bukan agar dosa itu dipelihara dan pelakunya dikembalikan ke posisi kuasa? Memang tidak semudah itu untuk meninggalkan dosa. Namun, apakah wajar jika pembelaan terhadap orang yang berdosa jutru dilakukan dengan mengorbankan korban?
Aku marah karena korban yang meminta perlindungan dan menuntut pelakunya menerima sanksi setimpal – dicopot dari jabatan, diproses secara hukum, tidak lagi diberi mimbar dan wewenang – justru yang dituduh tidak punya kasih, tidak mau memaafkan, dan mencemari nama gereja. Sementara institusi yang menyebut dirinya gereja memilih diam, menutupi bahkan kadang balik menuntut korban ketika ia bersuara. Gereja yang katanya hanya mengenal hukum kasih, ternyata sangat fasih memakai hukum dunia – tepi selalu untuk melindungi pelaku, bukan korban.
Kasih itu memaafkan dan mengampuni. Kasih itu memberi bukan menuntut balas. Terdengar romantis namun bobrok ketika digunakan untuk melindungi pelaku dan mengorbankan korban.
Inilah yang membuat aku cemburu pada mereka yang bisa menuntut keadilan tanpa dinilai tidak pantas. Inilah yang membingungkan sampai ujung batas mana keadilan dan kasih akan terus dibenturkan. Bukankah kasih seharusnya mendidik manusia untuk mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaannya dan mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri? Lalu bagaimana kita mengaku mengasihi jika itu diwujudkan dengan melukai orang lain, kemudian menuduh korban tidak memiliki kasih karena tidak memaafkan kesalahannya? Jika kasih yang demikian terus dipelihara demi menjaga nama baik, lantas apa yang baik dari kasih yang demikian. Inilah yang oleh Diestrich Bonhoeffer disebut kasih karunia yang murahan – pengampunan tanpa pertobatan, rekonsiliasi tanpa pertanggungjawaban. Kasih semacam itu bukan kasih. Ia hanya bobroknya dunia yang diberi jubah rohani.
Maka, keadilan selama kini dan nanti tidak akan pernah terjadi. Karena jarak dan rindu yang akan terus menguap hingga tarian wals akhir zaman berputar. Keadilan tidak akan pernah datang selama jarak antara kasih dan keadilan terus menjadi dua kata yang bertentangan. Serta rindu kita pada dunia yang baik-baik saja tidak akan terwujud selama kita masih meromantisasi kebobrokan ini atas nama kasih.
Aku teringat kencan pertama(ku) dengan dunia ini, aku berkata kepada diriku di masa itu untuk setidaknya memberi semangat kau akan sampai. Hal yang mungkin tidak pernah aku bayangkan saat Februari tahun 1997 kala itu. Aku tidak pernah membayangkan bahwa sampai di titik ini harus menyaksikan kasih dipakai sebagai alat pembungkaman korban. Namun ternyata aku disini menuangkan segala kegundahanku. Tulisan ini bukan untuk mengubah dunia dan isinya menjadi lebih baik dalam semalam. Ia hanya upayaku untuk tidak diam, untuk menyampaikan kepada dunia dan isinya sekecil apapun dampaknya.
Selamat merenungkan dunia dan isinya versi dirimu. Tidak perlu takut pada dunia dan isinya karena kita pun bagian di dalamnya – dan bagian itu bisa memilih berpihak pada yang terluka.