Dari Ruang Admin ke Ruang Hati: 25 Tahun Bersama PERUATI

Rekam Kerja Perempuan | Dalam Rangka HUT ke-31 PERUATI
Ditulis berdasarkan wawancara dengan Reny Ardiani, staf PERUATI sejak 1999 oleh Anita Simatupang.
9473

Refleksi Reny Ardiani, Staf PERUATI

Di balik setiap organisasi yang bertahan puluhan tahun, ada orang-orang setia yang mengerjakan hal-hal yang jarang terlihat: mencatat, mengelola, mendampingi, mengatur, dan menjaga agar organisasi terus berjalan. Reny Ardiani adalah salah satu dari mereka.

Sejak November 1999 hingga hari ini, ia telah menemani PERUATI melewati berbagai periode kepemimpinan dan perubahan yang menyertainya. Dari posisi yang mungkin tidak selalu mendapat sorotan, tapi tidak pernah berhenti penting.

Dalam HUT PERUATI ke-31 ini, inilah saatnya kerja itu dikenang dan dicatat.

Awal Kisah

Dari informasi yang diterima lewat seorang sahabat bernama Rosna Siregar, yang waktu itu bekerja sebagai admin pascasarjana STT Jakarta (sekarang STFT Jakarta), Reny menerima informasi lowongan kerja di PERUATI. Ia mengajukan lamaran, bertemu dengan Septemmy Lakawa, Sekretaris BPN PERUATI dan Novy Sine, staf PERUATI, lalu diterima menjadi staf PERUATI yang baru. PERUATI saat itu memang membutuhkan tenaga administrasi yang bukan lulusan teologi, agar fokus pada urusan administrasi secara penuh.

Pekerjaan pertama Reny adalah pendokumentasian segala sesuatu terkait organisasi. Ia bekerja di ruang dosen STFT Jakarta bersama Septemmy dan mendampinginya dalam setiap kegiatan yang diadakan di manapun.

Seiring waktu, tanggung jawabnya bertambah. Ia mulai membantu bagian keuangan, mendampingi bendahara BPN, membuat tabel-tabel laporan untuk lembaga donor, yang menurutnya selalu perlu dipelajari ulang setiap saat. “Setiap periodisasi pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing,” kata Reny. “Dan saya merasa kaya ketika bekerja dan berkarya dengan orang-orang yang berbeda-beda.” Bekerja bersama dalam organisasi teolog perempuan, membuatnya belajar mendengar dengan sabar dan mengolah emosi – sebuah keahlian yang tumbuh dari keseharian.

Ketika Pekerjaan Membentuk Kesadaran

Bekerja di PERUATI bukan soal tugas administratif. Bagi Reny, ini adalah proses pembentukan diri yang berlangsung perlahan tapi nyata. Lewat kegiatan-kegiatan PERUATI yang ia ikuti, ia mengenal isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik verbal maupun fisik. Lebih dari sekadar mengenali, ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan untuk memitigasi hal-hal tersebut. Pengetahuan itu, kata Reny tidak ia dapatkan dari tempat lain.

Ia juga belajar tentang feminisme dan menghidupinya dalam keseharian, bukan sekadar memahaminya sebagai konsep. Pemahaman itu ia teruskan ke kelompok Guru Sekolah Minggu di gereja. Dari satu perempuan yang mendapat pengetahuan, mengalir ke perempuan-perempuan lain. Itulah cara kerja feminis: dari tangan ke tangan, dari hati ke hati. Ia pun belajar menerima ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dan kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) – proses yang mengajarinya bahwa kasih tidak datang dengan syarat, dan bahwa perempuan yang bekerja di ruang keadilan harus bersedia memperluas batas pemahamannya sendiri.

Melihat PERUATI Bertumbuh

Setelah 25 tahun, Reny melihat PERUATI sebagai organisme yang terus bergerak. Program-programnya berkembang sesuai kebutuhan anggota. Cara kerja BPN diperbaiki dari evaluasi ke evaluasi. Perempuan-perempuan datang dan pergi, membawa energi yang berbeda di setiap periode. Reny meyakini bahwa semangat berorganisasi perlu terus ditumbuhkan, terutama di tingkat BPD (Badan Pengurus Daerah). Keaktifan bukan hanya tentang mengikuti program nasional, tapi tentang inisiatif lokal yang hidup dan konsisten. Hal-hal kecil seperti iuran rutin pun, kata Reny, adalah bagian dari cara perempuan saling menopang organisasi yang mereka miliki bersama.

Saat Kitab Suci dibaca dengan Mata Baru

Ada momen yang tidak terlupakan adalah Kursus Teologi Feminis (KTF) di vila Gereja Kristen Indonesia (GKI) dekat Cimori, Puncak, bersama teolog feminis bernama Lieve Troch. Reny hadir sebagai notulen. Di situ ia belajar cara membaca Kitab Suci yang berbeda: setiap teks perlu ditanya — untuk siapa ditulis? kapan? oleh siapa? dan dari latar belakang apa? Teks tidak serta merta dapat ditempelkan ke jemaat masa kini tanpa pembacaan yang kontekstual. Inilah yang juga ditunjukkan oleh Pdt. Ratnawati Lesawengen dan Agustina Samosir kepada Reny. Perempuan belajar dari perempuan. Kesadaran teologis berpindah bukan hanya di ruang kuliah, tapi di meja rapat, di notulensi, dan di percakapan yang terjadi saat kerja bersama.

Pesan untuk Perempuan yang Mengerjakan Hal Serupa

Kepada perempuan-perempuan yang juga bekerja di organisasi perempuan, di ruang teologi, atau di gerakan yang memperjuangkan suara perempuan, Reny menitipkan tiga hal:

  • Pertama, hidupi feminisme dengan kasih. Bukan sebagai slogan, tapi sebagai cara hidup yang nyata dalam keseharian – termasuk kepada sesama perempuan di sekitar kita.
  • Kedua, tetap rendah hati dan berpikir positif. Pekerjaan ini berat dan penuh dinamika. Kerendahan hati bukan kelemahan – ia adalah cara kita tetap dapat mendengar dan terus belajar.
  • Ketiga, ketika usia bertambah, tetaplah bijaksana dan “bijaksini”, terutama kepada sesama perempuan. Pengalaman yang kita miliki adalah warisan yang kita teruskan, bukan hanyamilik kita sendiri.
31 Tahun PERUATI: Merayakan Kerja Perempuan

PERUATI genap berusia 31 tahun. Angka itu bukan hanya milik para pendiri, bukan hanya milik pengurus yang namanya tercatat dalam laporan tahunan. Angka itu juga milik perempuan-perempuan yang hadir setiap hari, yang mengangkat telepon, membuat arsip, menemani rapat, menghitung keuangan, dan memastikan surat-menyurat terselesaikan.Kerja perempuan sering kali tidak bersuara keras tapi yang menopang. Ia yang membuat hal-hal besar tetap bisa berjalan.

Reny adalah bukti bahwa kerja itu nyata, bermakna, dan membentuk – baik diri yang mengerjakannya, maupun organisasi yang ditopangnya.

Selamat ulang tahun, PERUATI. Semoga kita terus merayakan dan mencatat kerja perempuan – yang terlihat maupun yang tidak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top