Paradoks Cinta yang “Selesai” dan “Tidak Selesai” dalam Diri Pendeta Emeritus

Tulisan ini disadur ulang dari buku “Hadiah Kecil bagi Sang Emeritus, Eddy Rudolf Rade” (2026).
Ditulis oleh: Eunike Alvonciani (Calon Pendeta GKI Kebayoran Baru)
Disunting oleh: Anita Simatupang
Ilustrasi: Anita Simatupang
Author Name
whatsapp image 2026 04 27 at 14.54.10

Ketika kita membaca puisi atau kisah tentang gairah cinta yang menggelora, sosok siapa yang pertama hadir dalam bayangan kita? Mungkin sebagian besar dari kita segera membayangkan kaum muda, masa yang identik dengan romansa, keberanian dan energi yang meluap untuk berkarya dengan penuh cinta. Sebaliknya, kata-kata seperti gelora, gairah, atau cinta jarang dilekatkan pada sosok yang telah menua. Seolah-olah cinta memiliki batas usia. Seolah-olah semangat perlahan ikut pensiun bersama tubuh yang menua.

Namun, benarkah demikian?

Cinta dan usia ternyata tidak selalu berjalan lurus. Ada anggapan bahwa cinta akan surut seiring bertambahnya usia, gelora cinta pun perlahan meredup. Waktu dapat mengubah motivasi. Karya yang dahulu dimotivasi oleh cinta perlahan berubah menjadi rutinitas. Banyak faktor yang mungkin memengaruhi kemurnian cinta mula-mula itu. Namun, di sisi lain, ada pula mereka yang berhenti dari karya yang dicintai bukan karena cintanya telah habis. Realitas ini mengingatkan kita bahwa cinta dan karya tidak pernah sederhana. Tidak ada rumus pasti yang dapat mendefinisikan perjalanan seseorang dalam mencintai dan berkarya

Di sinilah kita bertemu dengan figur pendeta emeritus.

Sering kali, dari penampilan fisiknya, seorang emeritus masih tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Anggapan seperti itu tentu menyenangkan. Namun gelar emiritus justru menghadirkan pengakuan publik bahwa bahwa seseorang telah memasuki fase usia lanjut. Gelar kehormatan ini membawa makna yang tidak selalu ringan: perubahan fisik, cara pandang orang lain, serta berakhirnya jabatan struktural dapat menghadirkan kegelisahan. Terlebih lagi ketika idealisme terasa semakin jauh, ruang untuk memberi saran terasa menyempit, dan perlakuan sosial kadang masih meminggirkan mereka yang telah menua. Tidak heran jika menjadi tua adalah kenyataan yang tak selalu mudah diterima.

Di tengah pergulatan itu, saya justru terdorong untuk melihat emeritasi melalui satu kata kunci yaitu cinta. Seorang yang melayani hingga menerima gelar emeritus adalah pribadi yang telah belajar mencintai secara konsisten. Dalam segala keterbatasannya, ia telah berjuang membangun dan merawat komunitas yang dikasihinya. Ketika melihat persoalan muncul, hasrat cinta itu tidak serta-merta menghilang; ia tetap hadir dalam dorongan untuk melindungi, menata, dan memperbaiki. Sulit rasanya mengatakan, “Cukup, batasi saja!” kepada seseorang yang hidupnya dibentuk oleh cinta, sebab cinta sering kali melampaui batas rasional dan menjadi tenaga yang menggerakkan tindakan yang kadang di luar nalar. Berbeda dengan tubuh yang secara alami mengalami penurunan, gelora cinta seorang emeritus tidak selalu ikut meredup. Justru, cinta itu dapat semakin mekar. Ia tetap bersukacita atas kebaikan yang terjadi dalam komunitasnya, turut berduka ketika masalah muncul, dan diam-diam tetap berharap komunitas itu berjalan menuju kebaikan. Semua keterikatan itu berakar pada cinta.

Di sinilah paradoks emeritasi menjadi nyata. Gelora cinta yang tidak selesai harus hidup berdampingan dengan gelar emeritus yang sering dipahami sebagai tanda selesai. Padahal, “selesai” dalam emeritasi hanyalah akhir dari jabatan struktural, bukan akhir dari panggilan melayani. Justru pada titik ini terbuka babak baru: cinta yang tidak lagi bergantung pada posisi, melainkan menemukan kemurniannya dalam kebebasan.

Cinta seorang pendeta emeritus mengalami transformasi. Ia tidak lagi diwujudkan melalui gebrakan atau keputusan besar dalam persidangan atau otoritas struktural, melainkan melalui praksis-praksis hening yang membentuk komunitas secara perlahan. Cinta itu hadir dalam keberanian melepaskan dan memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk bertumbuh. Ia tampak dalam kesediaan menjadi sahabat yang menemani, bahkan ketika generasi penerus mengalami kegagalan. Cinta juga terwujud melalui refleksi-refleksi yang membangun – bukan sebagai kontrol yang menghakimi, melainkan sebagai dukungan yang menguatkan. Ada pula cinta yang bekerja secara sunyi. Menjaga komunitas agar tidak terjebak dalam perbandingan antargenerasi, mempertahankan integritas tanpa harus mencari pengakuan, serta tetap menghadirkan kehangatan meski jabatan tidak lagi dipegang. Ada disiplin batin yang tidak lagi mencari pengakuan. Jalan ini mungkin tidak mencolok, tetapi memerlukan kedewasaan batin dan kebijaksanaan untuk melepaskan – bukan karena tak sanggup lagi, melainkan karena cinta telah dimurnikan dari dorongan untuk menguasai.

Pada akhirnya, gelora cinta seorang pendeta emeritus yang sungguh menghayati paradoks “selesai” dan “tidak selesai” menemukan kehormatannya. Gairah cinta itu tetap hidup namun dalam bentuk yang lebih hening, lebih matang, dan membawa damai sejahtera. Kiranya hiduplah perkataan Yesus melalui diri seorang pendeta emeritus, “Damai sejahtera bagi kamu!” (bdk. Yoh. 20:19,21,26).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top